Titik Terang (Part 3)
Aku bergegas turun dan mengambil motorku, mengembalikan tiket parkir ke pos satpam yang mencatat motorku yang klasik sudah terparkir selama 8,5 jam dan langsung tancap gas kembali ke kerajaan dimana aku bisa tidur bebas dengan celana pendek dan baju oblong longgar kebanggaanku. Kost sweet kost.
***
Langit menunjukkan semburat senja, burung sudah tak lagi di kabel listrik melainkan di dahan pepohonan. Pintu kamar aku buka membiarkan cahaya dan angin Depok sore hari bersinggah di dalam kamar berukuran 3x3 meter ini.
"Sudah mau maghrib ya, ngabuburit deh biar dikira puasa," motivasiku untuk keluar dari ruangan tanpa kamar mandi di dalam ruangan dan tv. Aku berjalan menyusuri jalanan penuh dengan penjual makanan dan minuman, entah makanan khas dari daerah mana saja, semuanya lengkap di deretan jalan dekat kostku. Ya, tujuanku blusukan, sekadar mencari sesuatu yang manis.
"Kuberjalan terus tanpa henti", itu mungkin yg Nidji akan katakan saat bingung mencari bahan buka puasa tetapi aku bukan vokalis grup band Nidji, jadi aku berhenti berjalan di depan penjual es buah yang terlihat ramai oleh pembeli.
Aku pesan satu porsi es buah, sembari menunggu pesanan, aku kembali memperhatikan sekeliling. Langitnya indah, warna oranye bercampur biru, dengan sedikit bias kuning dan putih.
Keadaan jalanan juga tidak kalah apik, mbak-mbak berwajah manis membawa banyak belanjaan dalam kantung plastik, ibu-ibu berjualan yang berisik, dan para pemburu takjil untuk berbuka puasa tampak tak terganggu dengan hiruk-pikuk yang ada. Lampu jalan juga ikut memeriahkan sore ini, seakan menyambut kemacetan dan daerah yg berpotensi menjadi tempat terbaik untuk tangan gesit nan lihai dari para pencopet.
Percakapan yang terdengar bagaikan dengungan sekawanan lebah, gemuruh tawa dan semua polusi suara ada pada saat itu. Namun, ada satu objek seakan tak tersentuh oleh keramaian di sekitarnya. Di samping papan tanda dilarang berhenti di dekat pohon rindang itu, seorang anak kecil dengan baju onthel, celana merah pendek, bersendal putih, serta membawa wadah plastik.
Yang membedakan hanya satu, sekarang ia menyampirkan sarung di pundaknya dan memakai peci berwarna putih agak lusuh. Lagi, ingatanku ditarik kembali saat berada menatap ke luar jendela kelasku, aku mendapati pemandangan yang sama, semuanya berlalu-lalang di depannya, namun hanya satu-dua orang yang mempedulikannya.
Terbesit dalam pikiran bahwa aku harus kesana dan membeli apapun yang dia jajakan saat itu, tetapi aku mengurungkan niat itu karena sadar tidak membawa uang lebih. Tak lama kemudian, mas penjual es buah yang memakai kaos berwarna merah dan bertuliskan Malioboro menepuk halus pundakku, "Ini mas es buahnya, 10 ribu," ucapnya. Kami bertukar bawaan, aku dengan es buah, dia dengan uang.
Aku kembali berjalan menuju kostan dan menoleh ke belakang agar seperti di sinetron dan melihat bocah itu.
Benar, terlihat jelas kontrasnya hiruk-pikuk di jalanan dan anak itu. Di saat semua orang sibuk dan bergerak secara dinamis, kenapa hanya dia yang terlihat statis dengan wajah polos.
Aku terdiam sejenak, jarak kami lumayan jauh, namun siapa sangka bahwa mata kami bertemu kembali. Kali ini aku tidak memulai pembicaraan karena tidak mungkin suaraku akan terdengar dari jarak 50 meter, akhirnya aku kembali ke kostanku, membuka pintu, menghabiskan es buah yang sudah mulai encer, dan terbang menuju alam mimpi.
Sinar matahari mengintip dari sela-sela tirai jendela.
Oh tidak! Aku kesiangan. Kulihat angka jam di handphone menunjukkan pukul 06.55. Aku pun terburu-buru bersiap berangkat hanya dengan mengganti baju dan mencuci muka serta gosok gigi.
Tak lupa kusemprotkan parfum ke seluruh tubuh untuk menutupi aroma keringat karena akan lebih terlambat masuk kelas pukul 07.00 jika mandi dahulu. Jarak kostan dan Politeknik Negeri Jakarta sekitar 15 menit, aku memilih untuk lewat jalan belakang untuk menghemat waktu tempuh. Aku pun segera memarkirkan motorku di dekat pagar parkiran dan berlari menuju kelas saat jarum jam ditangan menunjukkan pukul 07.10.
Ternyata dosen kelas pagi pun datang sedikit terlambat dan ketika aku masuk ke kelas, saat itu juga namaku dipanggil untuk absensi.
“Huft, syukur deh pas banget datengnya jadi ga kena kompen,” bisikku kepada diri sendiri sambil menempati kursi kesukaanku di bagian belakang dan dekat jendela.
Tak terasa kelas berakhir ketika waktu menunjukkan pukul 11.55. Aku pun turun ke bawah menuju tempat biasa teman-temanku nongkrong untuk merokok ataupun sekedar minum kopi. Beberapa saat aku duduk disana sembari menikmati kopi susu di gelas plastik, aku melihat anak kecil yang kemarin aku jumpai. Dia dengan setia berdiri sembari menjajakan dagangannya di tempat yang sama.
“Eh, itu bocah jualan gorengan di sana tiap hari ya?” tanyaku.
“gatau deh, gue ngga pernah merhatiin sih,”balas temanku.
Aku pun terus menatap anak kecil tersebut sambil memikirkan kenapa dia jualan di situ kalau tidak banyak pembelinya.
Tak terasa waktu sudah beranjak menuju pukul 4 sore, aku pun tak sengaja melihat anak kecil itu membereskan dagangannya dan pergi entah kemana.
Diperjalanan pulang, aku pun melihat anak itu berjualan di tempat yang sama, di jalan yang penuh dengan pedagang kuliner untuk berbuka puasa. Kudekati, terlihat jumlah gorengan yang masih banyak berada di kotak plastik yang biasa ia bawa.
Entah nasib sial apa yang sedang dirinya hadapi, tak sengaja seorang ibu berjalan dengan terburu-buru dan menyenggol wadah gorengan si anak itu. Gorengan itu pun terjatuh tepat ke tanah yang memang agak sedikit becek saat itu, hanya tersisa sekitar 5-6 potong gorengan yang tidak terjatuh.
Lalu anak tersebut memunguti gorengan yang terjatuh, memasukannya ke kantung plastik, dan membuang ke tempat sampah.
***
Hari ini aku kuliah seperti biasa. Hanya pura-pura menatap dan mendengarkan dosen padahal pikiranku terbang entah kemana. Aku jadi teringat anak kecil yang menjual gorengan itu. Aku pun bertekad untuk membantunya sedikit dengan membeli dagangannya nanti.
Sore hari pun tiba. Aku bersiap untuk menyusuri jalanan tempat anak itu biasa berjualan saat sore hari. Namun, aku tidak melihatnya di tempat biasa ia berjualan. (bersambung)
-------------------------------------------
Wah, kira-kira di mana ya anak kecil itu berjualan? Apakah Andi berhasil menemukan anak itu?
Penasaran ga? Tunggu part 4 nya ya Sabtu nanti 😄
Jangan lupa untuk tulis saran, kritik, dan komentar tentang part 3 ini di bawah 👌
Happy satnite... ❤️


Komentar
Posting Komentar