Titik Terang (Part 2)
Dia pun masih terus-menerus memanggilku sampai ia mengucapkan satu kalimat yang seketika membuatku memutar tubuhku 180⁰. Lalu sambil menahan malu, aku pun berjalan masuk kembali ke dalam kantin. Anak itu masih tetap ditempatnya saat aku berjalan ke luar, dengan pura-pura tidak menyadari dia masih terus menatapku, aku pun mengeluarkan dompet dan memberi uang padanya. Aku pun bergegas kembali ke kelas namun anak itu berkata, “Kasirnya disana Bang, saya mah jualannya gorengan, bukan mie ayam,”. Lagi, rasa maluku berlipat ganda ditambah lagi beberapa mahasiswi mendengar ucapan anak tersebut dan berbisik-bisik sambil menatapku. Haduh, udah ketahuan ga puasa, diteriakin belum bayar, salah tempat lagi pas bayar, pikirku sambil memberi selembar Rp20.000 kepada pedagang yang benar. Aku pun masuk ke dalam kelas dan kembali duduk di bangkuku. “Lama amat kamu cuci mukanya,” selidik dosenku. “Iya Bu, tadi sekalian buang air,” ucapku sambil mengelap peluh di dahi. ...