Titik Terang (Part 1)

Entah keberapa kalinya aku menguap dan mengucek mata karena rasa kantuk tak tertahankan.

Kuedarkan pandangan ke sekitar ruangan dan ternyata keadaan teman-teman yang lain tak kalah payah. Ada yang memperhatikan penjelasan dosen di depan namun pikirannya entah ada di mana, ada yang sibuk memainkan gadget, ada yang berbisik sambil bergosip ria dengan teman sebelahnya, bahkan ada pula yang sudah terbang ke alam mimpi dan membuat jalur sungai iler dengan indahnya.

Duh, ini dosen lama amat deh ga kelar-kelar ngocehnya, ngga peka banget sama mahasiswanya yang udah bosen berat, ngga haus apa ya bulan puasa gini ngomong terus, batinku.

Jam dinding sudah memposisikan jarumnya tepat di angka 12 dan suhu pendingin ruangan yang sejuk, menggoda mata untuk menutup rapat. Lamat-lamat suara dosen itu bak lagu pengantar tidur, aku pun mulai goyah oleh rasa kantuk.

Brak! Aku tergeragap bangun oleh suara keras tepat di depan mukaku. Dengan pandangan yang masih sedikit buram, aku melihat mimik wajah dosen itu yang menahan marah. “Bagus ya Andi. Saya lagi jelasin Fisika, kamu malah enak enakan tidur!” bentak dosen itu. Teman-teman yang lain langsung tersadar karena kaget dengan bentakan dosen tersebut.

“Ng...anu Bu, tadi saya ngga tidur kok, tadi saya lagi dengerin penjelasan Ibu sambil merem biar lebih khidmat,”elakku. Seketika teman-teman yang lain menahan tawa karena ucapanku tadi. “Malah bercanda kamu ini. Sana kamu cuci muka biar ga ngantuk,” titah dosen tersebut. Aku pun dengan senang hati melakukan perintah tersebut.

Setelah mencuci muka, aku pun berjalan-jalan ke sekitar gedung TGP mencari udara segar. 

Ah laper lagi, mana tadi ga sempet sahur gara-gara nonton namatin episode Naru*o, ke kantin dulu kali ya, tapi jangan sampe ketauan orang nih kan tengsin kalo ketauan ga puasa, pikirku.

Aku pun melangkahkan kaki ke jalan kecil menuju Kantin Bawah (Kantin Bawah). “Lah sepi amat nih tumben, berasa kantin punya sendiri deh,” bisikku. Setelah masuk ke area kantin, aku pun menoleh ke segala arah dan ternyata tidak ada pedagang yang berjualan.

“Yaelah zonk amat ini udah jauh-jauh jalan ke sini malah ga ada yang buka,” rutukku.

source : Google images


Akhirnya, aku pun melangkahkan kaki menuju kantin yang berada di dekat gedung Teknik yang biasa disebut Kantin Teknik (Kantek). Berharap disana ada pedagang yang menjual makanan dan minuman untuk mengganjal perut.


Bagai menemukan oasis di tengah gurun pasir, dengan suka cita aku pun melangkah masuk ke dalam Kantek. Beberapa penjual makanan dan minuman sedang melayani mahasiswi yang memesan. Ah mungkin mereka lagi datang bulan, pikirku. Aku pun berpikir sejenak untuk memesan apa. Akhirnya, aku memesan mie ayam dan es teh manis.

Lalu aku berjalan mendekati konter penjual mie ayam untuk memesan. Setelah memesan makanan, aku pun berjalan ke pedagang yang menjual berbagai jenis minuman. Saat aku sedang memesan es teh, tak jauh dariku ada seorang anak kecil yang kuperkirakan berumur sekitar 7 tahun sedang memandangiku dengan keheranan. Tak lama kedua pesananku pun diantarkan oleh penjualnya menuju meja yang telah kutempati dan mulai menyantapnya.

Ternyata anak tadi pun masih terus menatapku dengan ekspresi yang sama namun dengan jarak yang lebih dekat. Aku pun membalas tatapannya. Seperti novel romansa remaja, kami saling balas menatap sekitar 5 detik, tetapi aku tidak jatuh cinta sih.

“Kenapa dek ngeliatan aja? Kamu mau?” tanyaku sambil menawarkan ke anak kecil itu, dia pun menggelengkan kepala sambil tersenyum. Melihat responnya atas pertanyaanku tadi, aku pun melanjutkan menyantap mieku.

Saat aku sedang menyeruput menikmati mieku, anak itu duduk di kursi yang ada di hadapanku dan dengan polosnya bertanya,” Abang ga puasa?”.
Aku pun mendongak terkejut dan hampir tersedak saat mendengar pertanyaannya.

“Oh, hahaha iya lagi ga puasa, Abang lagi dapet,” ucapku terbata-bata.

Anak kecil itu hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O saat mendengar jawabanku. Sesudah itu, aku pun menghabiskan makanan dan minumanku dengan cepat sebelum anak tadi bertanya lebih jauh dan membuatku salah tingkah.
Setelah selesai makan, dengan terburu-buru aku pun beranjak dari kursi tempatku duduk dan berjalan keluar kantin.

“Bang!” panggil anak tadi. Aduh, udahlah pura-pura ga denger aja deh daripada ditanyain macem-macem, batinku.

Dia pun memanggilku lagi, aku tetap berusaha mengabaikannya karena takut dilihat beberapa mahasiswi yang ada di  dalam kantin.

Dia pun masih terus-menerus memanggilku sampai ia mengucapkan satu kalimat yang seketika membuatku memutar tubuhku  180⁰....(bersambung)

-------------------------------------------
Wah, kira-kira apa ya ucapan anak kecil itu hingga membuat Andi langsung memutar balik tubuhnya? Penasaran ga? Tunggu part 2 nya ya Sabtu nanti 😄
Jangan lupa untuk tulis saran, kritik, dan komentar tentang part 1 ini di bawah 👌
Happy satnite... ❤️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Terang (Part 3)

Yuk, Segera Tukarkan KMT Lamamu!

Seru-Seruan Bareng Xiaomi dan MiFans Bekasi