Titik Terang (Part 2)

Dia pun masih terus-menerus memanggilku sampai ia mengucapkan satu kalimat yang seketika membuatku memutar tubuhku  180⁰.

Lalu sambil menahan malu, aku pun berjalan masuk kembali ke dalam kantin. Anak itu masih tetap ditempatnya saat aku berjalan ke luar, dengan pura-pura tidak menyadari dia masih terus menatapku, aku pun mengeluarkan dompet dan memberi uang padanya.

Aku pun bergegas kembali ke kelas namun anak itu berkata, “Kasirnya disana Bang, saya mah jualannya gorengan, bukan mie ayam,”.

Lagi, rasa maluku berlipat ganda ditambah lagi beberapa mahasiswi mendengar ucapan anak tersebut dan berbisik-bisik sambil menatapku.

Haduh, udah ketahuan ga puasa, diteriakin belum bayar, salah tempat lagi pas bayar, pikirku sambil memberi selembar Rp20.000 kepada pedagang yang benar.

Aku pun masuk ke dalam kelas dan kembali duduk di bangkuku.

“Lama amat kamu cuci mukanya,” selidik dosenku.

“Iya Bu, tadi sekalian buang air,” ucapku sambil mengelap peluh di dahi.

Bagaikan lagu Chrisye, dosen itu menatapku curiga, seakan penuh tanya, sedang apa aku disana tadi dan kembali melanjutkan pelajaran.

Kelas penuh dengan suara sang dosen yang dengan semangat mengajari Fisika. Tak sedetik pun dirinya terlihat lelah. Tubuhnya tegap, suaranya lantang, matanya berapi-api, sungguh kelihatan benar-benar seperti orang yang berpendidikan, pikirku.

Lalu, tak sengaja aku bertatapan dengan pantulan bayangan diriku di layar handphone hitam yang sedang kupegang.

Astagfirullah! Aku terkejut melihat sosok gondrong, dengan janggut serta kumis yang tidak rata, dan muka yang jarang dibersihkan menggunakan sabun cuci muka. Ini jadinya kalau Chiko Jerico ga jadi artis, ucapku di dalam hati sembari melihat jam dinding yang tak kunjung singgah di angka saat pelajaran selesai.

Waktu terasa berjalan sangat lamban jika dibanding dengan kata-kata yang keluar dari mulut sang dosen. Aku mulai bosan -- sebenarnya dari awal sih, tapi kali ini jadi semakin berlipat ganda, akhirnya aku mencoba untuk memperhatikan dosen. Aku perhatikan. Fokus, sudah mau mencatat. Tapi gagal.

"Yaiyalah, gue liatin dosen doang, bukan dengerin pelajarannya" bisikku pelan kepada diriku sendiri.

Source : Google images

Akhirnya, aku tutup buku catatanku dan menatap keluar jendela. Terlihat pohon pohon rindang dan beberapa mahasiswi hijab yang terlihat manis, ada juga sih mas-mas kece dengan jaket bombernya, tetapi ada satu sosok yang mencuri perhatianku.

Sosok anak kecil dengan baju bergambar sepeda onthel dan celana pendek merah dengan sandal jepit putih yang sedang berdiri dibawah pohon, di samping papan tanda dilarang parkir.

Aku merasa seperti pernah melihat anak itu, tetapi entah dimana. Dari gerak-geriknya terlihat dia sedang menawarkan sesuatu, entah apa yang ada dalam wadah kotak putih berukuran agak besar itu. Orang berlalu lalang di depannya, bahkan seorang wanita yang terlihat cantik juga berlalu saja seperti tak melihat. Ada sih satu-dua orang yang berhenti, entah apa yang mereka bicarakan dengan anak itu.

Aku alihkan pandanganku ke horizon dan merasakan tajamnya sinar sang surya menusuk retina. Dan kembali mengistirahatkan mataku ke arah anak kecil tadi. Lagi, dia masih melakukan gestur yg sama.

"Namanya siapa ya?" tiba-tiba melintas dipikiranku.

"Andi," suara entah darimana memberitahuku.

"Halah, gamungkin, masa namanya sama kayak gue," pikirku lagi.

"Andi," lagi, suara dari langit itu mengucapkannya.

"Bukan, ga mungkin. Masa namanya Andi, sok tau nih" bantahku makin kencang.

"Andi!" Suara itu pun membalas tak kalah kencang.

"Dibilang ga mungkin sama, kok nyolot sih!" teriakku sambil menatap langit dengan kening berkerut.

"Woy Ndi!" aku pun tersadar suara itu bukan berasal dari langit, tapi dari sampingku.

"Lo ngapain ngelamun marah-marah sama langit, ga ngerti Fisika jadi stres ya. Liat tuh udah jam berapa," ucap temanku dengan nada ketus.

"Eh, iya sorry lah Fi, hehehe,” mataku menatap ke sekeliling dan ternyata kelas tidak lagi sepenuh sebelumnya, setiap sudut aku amati dan baru tersadar bahwa sudah lebih 30 menit dari jadwal pulang kuliah.

Aku bergegas turun dan mengambil motorku, mengembalikan tiket parkir ke pos satpam yang mencatat motorku yang klasik sudah terparkir selama 8,5 jam dan langsung tancap gas kembali ke kerajaan dimana aku bisa tidur bebas dengan celana pendek dan baju oblong longgar kebanggaanku.
Kost sweet kost.... (bersambung) 

-------------------------------------------

Wah, kira-kira apalagi ya kelanjutannya? Benar ga tuh kalo nama anak kecil itu Andi juga? 
Penasaran ga? Tunggu part 3 nya ya Sabtu nanti 😄
Jangan lupa untuk tulis saran, kritik, dan komentar tentang part 2 ini di bawah 👌
Happy satnite... ❤️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Terang (Part 3)

Yuk, Segera Tukarkan KMT Lamamu!

Seru-Seruan Bareng Xiaomi dan MiFans Bekasi