Titik Terang (Part 5)
![]() |
| Source : Google Image |
Anak itu malah tertawa mendengar jawabanku dan aku hanya
kebingungan melihat responnya.
"Lah
kok ketawa? Seriusan nyerah Abang mah kalo jualannya banyak
rintangan kayak
gini,”. Anak itu kembali tersenyum.
Aku pun mengucapkan terima kasih sekali lagi dengan sedikit rasa
sungkan menerima pemberian dari seorang anak kecil.
Aku pun
kembali membuka suara,”Adek beneran ga takut rugi, jualannya dikasihin ke preman?".
Anak itu
tersenyum sambil membenarkan lengan kaos warna biru yang terlihat lebih
besar dibanding ukuran badannya.
"Engga kok bang, ga rugi mah
kalau ngasih orang. Yang rugi kalo saya berenti jualan Bang. Baru saya rugi deh,
ga dapet apa-apa," ucapnya. Aku terdiam mendengar jawabannya,
terheran-heran karena seorang anak kecil memberikan jawaban yang sangat bijak. Aku bertanya lagi, "Tapi
kan Abang
liat daganganmu pernah jatohkan, kena becekan, sampe sekarang dipalakin lagi. Rugi
kan jadinya,".
Anak itu tertawa kecil sambil mengangguk,
"Iya sih Bang, tapi yang penting berusaha dulu deh saya Bang, dapet duit banyak
atau engga itu urusan belakangan, kalo udah rezekinya mah ga bakal
kemana,"
jawabnya sambil memasang sendal yang tadi dia lepas.
Aku masih terdiam mendengar
jawaban anak itu, melihat ia berdiri dan mau pergi entah kemana, aku spontan ikut berdiri dan
berterima kasih atas makanan dan minumannya. Anak itu mengangguk dan berpamitan. Langkah-langkah kecil
dari si bocah itu terkesan sangat besar bagiku. Badannya sih
kecil
ternyata punya cobaan hidup yang lebih berat, pikir Andi.
"Luar
biasa ini
bocah," gumamku kagum karena kegigihan dirinya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Ah Dek! namanya siapa?" teriakku.
Anak itu menoleh ke arahku dan balas berteriak, "Nama
saya Andi, Bang!".
Andi terkaget,
"Namanya samaan kaya nama gue? Serius? Klise banget sih kayak di
novel,” ucapku.
Aku pun melambaikan tangan kepadanya
yang berjalan menjauh. Tentu, hanya satu Andi yang pergi meninggalkan tempat, yang
satu masih berdiri di depan koridor dengan laptop serta sekantung
plastik
gorengan dan air mineral.
"Namanya
sama,"
pikirku lagi.
"Ada-ada aja ah," aku pun tertawa kecil.
Kembali
sunyi senyap, aku dihadapkan dengan rasa panik yang telah hilang sejenak karena
datangnya gorengan dan teman mengobrol.
"Argh, susah banget sih.
Nyerah gue lah," kesalku sambil mengacak rambut.
Aku terdiam sambil sesekali menghitung detak jantungku yang semakin kencang.
Angin berhembus perlahan menggerakkan plastik
hitam tadi yang membuat suara gaduh seakan memaksaku untuk tersadar. Aku menatap ke arah plastik
dan gorengan yang ada di dalamnya, juga air mineral yang berada di
sebelahnya.
Mataku masih
terfokus ke arah benda-benda itu seakan-akan menelisik jawaban sesuatu. Kuedarkan
pandanganku ke arah jalan yang di lewati anak kecil itu.
"Masih
gak nyangka namanya Andi," ucap Andi.
"Ga ada
nyerahnya ya itu bocah hahaha," tawaku sambil terkagum. aku terdiam sejenak. "Ga
ada nyerahnya itu bocah," ucapku sekali lagi.
"Ga ada nyerahnya
itu bocah!" ucapku yang ketiga kalinya dengan intonasi yang jauh berbeda.
Seakan
menemukan setitik cahaya diruangan yang gelap gulita, aku tersadar akan kelakuanku yang monoton, tidak
berani dengan perubahan, dan juga gampang menyerah. Jauh berbeda
dengan Andi si anak kecil penjual gorengan.
Dengan nama yang sama, dirinya menunjukan sikap yang
berbeda, berani berjuang, tidak mau menyerah, dan berani mencoba hal baru.
Kini aku tahu, apa yang membuatku merasa terbebani dan
merasa kuliah itu sebagai hambatan. Diriku sendiri yang menghambat perkembangan.
Akhirnya, aku sadar dan mulai mengerjakan
tugasku,
walaupun masih kebingungan, tetapi aku tidak berhenti menyerah mencari jawaban dan menyelesaikannya.
Tak terasa aku mengerjakan tugas hingga larut malam, bahkan satpam di
kampus pun
kaget melihat aku yang dengan semangat mengerjakan tugas di kampus yang sudah gelap. Waktu
sudah tidak malam lagi, sudah mendekati pagi, hingga akhirnya aku berhasil mengetik
paragraf kesimpulan yang diakhiri dengan tanda titik pada lembar tugasku.
“Alhamdulillah
selesai juga,”ucapku penuh syukur.
Aku pun bergegas pulang ke kostan. Tak lama kemudian azan Subuh berkumandang saat aku
melangkah masuk ke dalam kostanku. Membuka kunci dan langsung mandi, memakai pakaian yang
rapi, lalu menunaikan
shalat subuh, dan melanjutkan puasa tanpa sahur. Kali ini aku tidak melupakan semua hal
penting yang kubutuhkan. Tugas dan semangat untuk berubah menjadi
lebih baik.
Langit
sudah menampilkan sang surya yang merayap naik, motorku pun melaju ke arah
kampus. sampai depan pintu dan memilih duduk di baris nomor
satu.
Pintu
terbuka, sang dosen bertanya, "Bagaimana tugas dari saya, sudah semua?”. Semua
mahasiswa mengangguk dan mengumpulkan tugasnya di atas meja.
"Ga
ada lagi ngantuk, harus fokus dengerin dan belajar," semangatku untuk diri sendiri. Kelas
selesai, jarum jam bertengger di angka sepuluh, lalu hasil tugas dibagikan. Aku
pun maju ke depan saat namaku dipanggil dan mengambil hasil penilaian
dari tugasku
dengan penuh percaya diri.
"55"
tulis sang dosen dengan tinta merah pada tugasku.
Ada rasa kecewa dalam
diriku saat melihat hasilnya, tetapi aku sudah bertekad tidak akan seperti dahulu lagi.
Aku yakin, aku akan baik-baik saja, kegagalan
sekali-dua kali
bukan masalah, karena aku tahu, semangatku sekarang harus
lebih dari Andi si anak kecil penjual gorengan.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar