Titik Terang (Part 4)
Sore hari pun tiba. Aku bersiap untuk menyusuri jalanan tempat anak itu biasa berjualan saat sore hari. Namun, aku tidak melihatnya di tempat biasa ia berjualan.
![]() |
| Source :Google images |
Aku pun terus mengayunkan kaki menyusuri jalan menuju area parkir di kompleks pertokoan dan menemukan anak itu sedang melayani beberapa pembeli gorengan. Ternyata dia pindah jualan kesini ya, batinku.
Saat hendak kuhampiri, ternyata dagangan anak itu hanya tersisa sedikit sekali dan sedang bersiap untuk pulang.
Tanpa diduga, datanglah 2 orang laki-laki berotot dan berbadan besar dengan tato di kedua lengannya. Aku tidak tahu apa yang anak itu dan kedua laki-laki itu bicarakan, tetapi tak lama berselang, anak itu membungkus sisa gorengan yang ada dan memberikan uang kepada kedua pria itu.
Keesokan harinya, dosen di kelas pun izin karena ada diklat di luar kota. Beliau menitip pesan tentang tugas yang harus dikumpulkan 2 minggu lagi. Tugas yang biasanya dikerjakan berkelompok, namun kali ini cukup membuatku kaget karena tugasnya harus dikerjakan secara individu. Dosen tersebut juga berpesan bahwa hasil nilai dari tugas tersebut sangat menentukan nilai IPK nanti.
“Apa-apaan sih ini dosen, biasanya juga ngasih tugasnya kelompokan,” omelku.
Aku pun memilih untuk kembali ke kostan dan bersantai.
Saat sore hari, aku pun menuju ke tempat anak itu berjualan. Memang, berbeda sekali saat ia berjualan di jalan dengan saat berjualan di area parkir ini. Aku pun sempat mengantri cukup lama karena banyaknya pembeli yang berebutan minta dilayani terlebih dahulu. Aku perhatikan dengan seksama, ada binar kebahagiaan tersirat di kedua bola matanya.
Saat tiba giliranku, aku bertanya,” Dek, risolnya berapaan?”
“2000an Bang satunya,” jawab anak itu.
“Yaudah deh bungkusin 5 ya risolnya,” balasku.
Dengan cekatan ia memasukkan pesananku ke dalam kantung plastik hitam, aku pun mengangsurkan selembar uang Rp10.000 kepadanya.
“Alhamdulillah, makasih ya Bang,” ucap mulut mungilnya.
***
“Astaga! Lupa kalo tugas kemaren belum ngerjain apa apa tapi besok udah dikumpulin!” ucapku panik.
Aku pun bergegas menuju perpustakaan di kampus untuk mencari bahan referensi untuk tugas. Tak terasa sudah waktunya perpustakaan tutup namun aku belum menemukan apapun yang bisa menjadi bahan referensi tugasku.
Aku pun pindah ke bangku di pendopo teknik untuk melanjutkan usahaku mengerjakan tugas.
Akibat tanggal tuanya mahasiswa dan kostan yang tidak ada fasilitas internet, aku pun harus betah tetap di kampus meskipun langit mulai gelap.
Kampus masih tetap ramai terutama dengan mahasiswa yang aktif dan rajin di kegiatan mahasiswa.
Setelah terhubung dengan internet dengan kecepatan yang lumayan kencang, tetapi kemajuanku dalam pencarian bahan untuk tugas tetap lamban – bahkan tidak membuahkan hasil apa-apa.
"Gimana ini gue, hancur udah semester ini. Bisa-bisa di DO deh gue,” rutukku sambil membaringkan kepala di meja.
Cukup lama aku berada dalam posisi itu sembari memejamkan mata, sampai...
"Bang, kok malem-malem masih di kampus?" tanya satu suara mengagetkanku. Ah, ternyata anak kecil yang beberapa hari belakangan aku perhatikan.
"Oh iya, lagi nugas," jawabku sambil mengucek mata.
"Tapi saya liatin Abang ga nyentuh laptopnya daritadi, Cuma bengong sama tidur-tiduran aja,”tanyanya lagi. Aku pun menjawab, "iya ini lagi mikirin gimana ngerjain tugasnya," sembari tertawa hambar. Ia hanya menganggukkan kepala mendengar jawabanku.
Ia pun duduk di kursi di hadapanku lalu menawarkan gorengan, “Engga deh, ga bawa duit Dek,”.
“Oh gausah bayar, ini buat Abang biar ga laper pas ngerjain tugasnya,” ucap anak itu.
Aku terkejut mendengar jawaban dan pemberian anak itu. Sambil memakan gorengan pemberian anak itu, aku mengajaknya mengobrol.
“Dek, kamu emang biasanya jualan di deket kampus sini ya kalo siang?” tanyaku.
“Iya Bang, tapi kalo sore saya jualan di jalanan situ tuh yang rame,” jawabnya.
“Tapi bukannya kalo kamu jualan di jalanan situ malah jarang yang beli ya karena banyak juga yang jualan?”tanyaku kembali.
“Yah gitu deh Bang hehehe, makanya saya beberapa hari ini pindah ke depan kompleks toko situ. Alhamdulillah sih lumayan yang beli,” cengir anak itu.
“Pas itu Abang liat ada mas-mas badannya gede minta gorengan sama uang ya ke kamu?” tanyaku.
“Oh yang itu. Itu mah tukang jaga parkir disana tapi merangkap jadi preman juga,” ucap anak itu.
“Emang ga rugi ya itu gorengan kamu kasih gratis plus ngasih uang juga ke mereka?” ujarku.
"Ah gapapa Bang, dia cuma minta 10.000 sama gorengan 5.000, pulang masih bisa bawa 15.000, ga rugi Bang hehe", jawabnya masih sambil tersenyum melihat ke arahku. Sambil menghabiskan gorengan ditangan, aku berkata, "Kalau jadi Adek mah, udah nyerah pasti Abang,".
Anak itu malah tertawa mendengar jawabanku dan aku hanya kebingungan melihat responnya.
"Lah kok ketawa? Seriusan nyerah Abang mah kalo jualannya banyak rintangan kayak gini,” ucapku.
-------------------------------------------
Wah, kira-kira kenapa ya anak kecil itu tertawa?
Penasaran ga? Tunggu part 5 nya ya Sabtu nanti sebagai part terakhir 😄😢
Jangan lupa untuk tulis saran, kritik, dan komentar tentang part 4 ini di bawah 👌
Happy satnite... ❤️

Komentar
Posting Komentar