Prestasi Akademik dan Aktif Organisasi, Kenapa Tidak?
Keinginan
seorang Ibu adalah motivasi untuknya. Ia pun berusaha keras untuk mewujudkan
keinginan sang Ibunda. Semua perlombaan dibidang essai dan bahasa Inggris pun
ia jalani. Hingga pada suatu hari ia melihat poster Mahasiswa Berprestasi (Mawapres)
dan memotivasi dirinya untuk mengikuti lomba tersebut.
Selain
karena harapan sang Ibu, terdapat motivasi lain yang melecut dirinya untuk ikut
ambil bagian pada perlombaan Mawapres. “Aku ngeliat
TGP kaya dipandang sebelah mata gitu sama PNJ. Jadi maksudnya mungkin
dalam seni, kita amat sangat dibanggakan tapi dalam akademik kita dipandang
sebelah mata. Aku mau buktiin kalau ga
semua anak TGP yang kaya begitu,
masih banyak lho mahasiswa TGP yang sadar dengan akademik,” ujar Shintya A
Maharani.
Proses
seleksi yang ia lalui tak dapat dikatakan mudah. Anya, begitu ia biasa disapa,
mengatakan, jurusan Teknik Grafika & Penerbitan (TGP) termasuk yang paling
berat dalam tahap seleksi, karena sedari awal para peserta sudah didorong untuk
mengikuti seleksi yang cukup ketat.
“Jadi
waktu itu ada sekitar 9 orang yang ikut seleksi setingkat jurusan, dan dari
situ kami udah ditanyain ide kami mau buat apa bahkan karya tulis kami juga
ditanyain. Karya tulis sudah jadi penilaian diseleksi pertama, prestasi kami dicek,
dan yang paling berat lagi kami presentasi dalam bahasa Inggris, dan interview sebanyak dua kali,” jelasnya.
Dia
menuturkan bahwa Mawapres merupakan perlombaan paling berat diantara semua perlombaan
yang pernah ia ikuti, karena harus melakukan riset mengenai produk yang akan
dibuat. “Jadi kemarin aku bikin modul untuk guru-guru baru yang akan mengajar
di kelas mahasiswa berkebutuhan khusus. Jadi tantangan banget sih karena sebelumnya belum pernah ada
dan terus harus baca jurnal yang bertumpuk-tumpuk, harus serius dan fokus.
Konsultasi ke orang tua mahasiswa berkebutuhan khusus, aku harus konsultasi ke
psikolog, konsultasi ke dosen yang mengajar di kelas berkebutuhan khusus,” ucap
peraih peringkat 3 Mawapres tingkat kampus itu.
Adapun
kiat-kiat yang disampaikan olehnya jika ingin menjadi Mawapres adalah yakin,
niat yang baik diiringi dengan doa, mengumpulkan prestasi sebanyak-banyaknya,
harus disertai semangat yang tinggi. Kalau tidak dibarengi semangat yang tinggi
maka akan membuat niat menjadi kendur karena lomba itu melelahkan, menguras
tenaga, menguras materi, dan menguras emosi.
Dia
sendiri melakukan persiapan khusus selama satu tahun untuk mengikuti perlombaan
Mawapres dan menyiapkan dana tersendiri untuk akomodasi serta keperluan dalam
risetnya. Lalu memperbanyak mengikuti lomba dan harus mempunyai tujuan mau
berkontribusi apa untuk PNJ, mau memberikan apa kepada agama, mau
mempersembahkan apa ke Indonesia sehingga jalan menuju Mawapres dilancarkan. “Yang
terakhir adalah tawakal kepada Allah swt dan minta doa kepada orang tua. It’s best and it’s work,” ujarnya.
Imbangi Akademik dan
Pengembangan Diri
Selain
berprestasi dibidang akademik, Anya termasuk mahasiswi yang aktif dalam
berorganisasi, dibuktikan dengan ikut serta dalam Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) dan menjadi Redaktur Pelaksana majalah jurusan Out! Magazine.
Lalu
bagaimanakah ia mengimbangi dan membagi waktu untuk semua kegiatannya? “Cara
mengimbanginya, atur prioritas. Aku udah ngelist
apa saja yang harus aku lakukan di hari itu. Kalau aku pas bangun tidur, aku
harus tau apa yang aku buat hari ini,
apa yang aku kerjakan hari ini, apa yang aku kejar hari ini dan aku selesaikan
hari ini. Tahu prioritas, jadi prioritas mana ya yang lebih penting? Nah yang
jadi prioritas itulah yang didahulukan,” ujarnya.
Tips
darinya untuk menangani suasana saat lelah dengan rutinitas kegiatan adalah
ingat kepada orang tua, membayangkan bagaimana rasanya serta nikmatnya menjadi
orang sukses dan kaya.

Komentar
Posting Komentar